Pelangi Berliania Nusantara
Jawa Barat, Indonesia
"Mencoba untuk selalu melakukan yang terbaik dan berguna buat diri sendiri dan orang lain"
Terimakasih Anda telah berkunjung ke Blogku, semoga semua artikel-artikel yang saya posting disini dapat memberi manfaat bagi semua.

Sesungguhnya suatu kenikmatan yang tiada taranya apabila kita dapat membagi pengetahuan kepada orang lain, tidak hanya di simpan untuk diri sendiri.

“Sukses selalu buat Anda semua – Karena sukses adalah hak untuk setiap orang”.

Membaca menjadikan seseorang berisi
Berunding menjadikan seseorang selalu siap
Menulis menjadikan seseorang seksama
Membagi pengetahuan menjadikan seseorang lebih berarti
Bahwasanya terdapat banyak artikel yang ada di blog ini diambil, disadur, dicopypaste dari berbagai web, blog, media massa dan sumber artikel lainnya yang ada.

Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang kiranya telah berkenan (?) artikel-artikelnya telah di sebarluaskan melalui blog ini untuk kepentingan berbagi dan saling menambah pengetahuan bersama.

Membaca menjadikan seseorang berisi
Berunding menjadikan seseorang selalu siap
Menulis menjadikan seseorang seksama
Membagi pengetahuan menjadikan seseorang lebih berarti


Apabila terdapat pihak yang merasa keberatan tulisan atau artikelnya di posting di sini dapat menghubungi saya di akusangpelangi@gmail.com.

Sabtu, 29 Agustus 2009

25 Tips Kehamilan yang Sehat

UNTUK menjaga kehamilan itu agar bayi yang ada dalam kandungan tetapsehat. Inilah awal untuk memiliki anak yang sehat. Dan masa kehamilan ini sangatlah menentukan pertumbuhan dan perkembangan si kecil nantinya.

1. Kontrol teratur ke dokter untuk memeriksakan kehamilan. Bulan-bulanterakhir kehamilan, kontrol harus dilakukan lebih sering lagi. Bila Anda mempunyai keluhan atau mempunyai kekhawatiran apapun terhadap kehamilan yang Anda alami, periksakanlah ke dokter, walaupun ini belum saatnya Anda harus kontrol kembali.

2. Hindari bahan atau zat-zat kimia yang yang menimbulkan keracunan seperti insektisida, cat, bahan-bahan yang mengandung merkuri (airraksa) atau timah hitam.

3. Berhenti merokok bila Anda merokok atau janganlah menjadi perokok pasif, karena Anda sering menghirup asap rokok dari orang sekitarnya, misalnya dari suami Anda. Asap rokok akan membuat si kecil lahir dengan berat badan yang kurang, kematian si kecil dalam kandungan atau si kecil mudah jatuh sakit atau lambat dalam mempelajari sesuatu nantinya, dapat juga menyebabkan Anda mengalami keguguran.


4. Minumlah yang lebih banyak, terutama air putih. Cairan yang masuk berguna untuk membantu peningkatan volume darah yang terjadi selama kehamilan. Minumlah sedikitnya 6 - 8 gelas sehari, dapat berupa jus buah, susu, atau air putih biasa. Cara mudah untuk melihat kecukupan cairan dalam tubuh ialah dengan melihat warna air seni. Bila air seni, jernih seperti air putih atau hanya sedikit kuning, itu menunjukkan Anda cukup mengkonsumsi cairan.

5. Konsumsi makanan yang bergizi, untuk memenuhi kecukupan gizi untuk ibu dan si kecil dalam kandungan. Makanan harus memenuhi 5 kelompok makanan utama: nasi atau sumber karbohidrat lainnya, daging dan protein lainnya, sayuran, buah-buahan dan susu. Kurangi makanan berlemak dan perbanyak makanan berserat

6. Konsumsi vitamin Asam Folat 400 mikrogram perhari, sebelum kehamilan hingga beberapa bulan pertama dalam kehamilan. Hal ini berguna untuk mencegah cacat tabung saraf dan tulang belakang pada sikecil. Asam Folat ini juga penting diperoleh dari makanan yang mengandung Asam Folat seperti pada sereal, beras merah, jeruk, sayuran hijau, kacang-kacangan, brokoli, dan lainnya.

7. Konsumsi juga tablet penambah darah, yaitu tablet yang mengandung zat Besi sebanyak 30 miligram sehari selama masa kehamilan, atau sesuai yang dianjurkan oleh dokter. Zat Besi ini berguna untuk mencegah terjadinya anemia pada saat kehamilan, yang dapat menyebabkan terjadinya risiko untuk terjadinya perdarahan saat persalinan.Sebenarnya semua wanita yang berusia subur, sebaiknya mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak Zat besi.

8. Cuci tangan sesering mungkin, terutama setelah memegang daging mentah pada saat memasak atau setelah menggunakan kamar kecil. Karena dengan cuci tangan akan mencegah penyebaran kuman dan virus yang dapat menyebakan penyakit.

9. Kenali keadaan diri sendiri. Bila ada tanda atau gejala yang tidak biasanya seperti nyeri, perdarahan vagina, merembesnya air ketuban, pusing, pingsan, nafas menjadi pendek, gemetar, nadi menjadi cepat,terus mual dan muntah, pembengkakan pada sendi, tidak merasakan pergerakan janin, dan gejala atau tanda lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

10. Berhati-hatilah dalam mengkonsumsi obat-obatan termasuk juga obat-obat tradisional. Termasuk juga alkohol dan kafein. Kafein yang ada pada teh, kopi, minuman ringan dan coklat perlu juga dibatasi.

11. Obat-obatan yang sering diminum sebelum hamil, misalnya obat-obatan untuk hipertensi, epilepsi, asma atau kencing manis, perlu dikonsultasikan kembali dengan dokter Anda. Apakah perlu dilakukan perubahan atau penyesuaian dengan kehamilan Anda? Apakah obat-obatan ini aman digunakan dalam kehamilan?

12. Obat-obatan yang dijual bebas seperti untuk mengatasi flu dan batuk, mungkin dapat membahayakan janin dalam kandungan. Oleh sebab itu, konsultasikanlah dulu dengan dokter sebelum meminumnya.

13. Jangan sungkan atau takut bertanya pada dokter. Karena ini menyangkut kesehatan janin dan ibu sendiri. Lebih baik kita berhati-hati dan menanyakan semua kekhawatirkan yang kita rasakan.

14. Bergabung dalam kelas untuk ibu hamil seperti kelas senam hamil. Selain dapat mengambil manfaat dari kelas tersebut, calon-calon ibu juga dapat membagi pengalaman dan menambah pengetahuan dengan sesama calon ibu lainnya.

15. Tetaplah beraktifitas karena akan baik untuk sang ibu maupun sang calon bayi. Olahraga yang biasanya aman untuk ibu hamil seperti berjalan, berolahraga, bersepeda statis. Tapi ingatlah untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum memulainya.

16. Makanlah dalam porsi kecil tapi sering, sekitar 5 - 6 kali perhari. Ini jauh lebih baik daripada makan dalam 3 porsi besar sehari. Pola makan dengan porsi kecil yang lebih sering, dapat mengurangi mual-muntah di pagi hari dan nyeri lambung. Hindarilah makanan yang dapat membuat lambung nyeri, walaupun Anda menyukainya. Gantilah dengan makanan yang lebih bergizi.

17. Hindari mandi atau berendam dengan air panas saat hamil. Karena panas yang tinggi dapat membahayakan kehamilan.

18. Rencanakan dan buatlah lingkungan rumah yang aman untuk si kecil nantinya. Hal ini untuk mencegah bahaya-bahaya yang tidak diinginkan.

19. Hindarilah daging yang belum dimasak atau yang dimasak kurang matang, cucilah tangan setelah memegang hewan peliharaan atau berkebun. Ini untuk mencegah terjangkit parasit toksoplasma yang menyebabkan penyakit toksoplasmosis, yang dapat membahayakan janin dalam kandungan.

20. Karena ukuran rahim yang semakin besar, seiring dengan kurang efisiennya fungsi ginjal akibat kehamilan, dapat menyebabkan ibu lebih sering buang air kecil. Dapat juga dapat terjadi keluar air seni saat bersin, batuk atau ketawa. Ini disebabkan karena adanya tekanan rahim pada kandung kemih, yang sering terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan. Jika buang air kecil disertai rasa panas, nyeri dan lebih sering, periksakanlah ke dokter.

21. Berat badan yang berlebihan atau kurang selama kehamilan dapat menyebabkan masalah bagi si kecil yang masih dalam kandungan. Janganlah melakukan diet selama hamil untuk menurunkan berat badan yang berlebih sebelum berkonsultasi dengan dokter.

22. Melakukan vaksinasi untuk kehamilan. Tanyakanlah pada dokter mengenai hal ini, kapan sebaiknya vaksinasi diberikan.

23. Hindari pemeriksaan dengan sinar X (ronsen). Jelaskan pada dokter bila Anda sedang hamil bila dokter meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan itu.

24. Berikan lingkungan yang sehat untuk si kecil dalam kandungan. Dan saat si kecil telah lahir, dan tumbuh semakin besar, tetaplah beri dia bimbingan dan kasih sayang. Kesehatan dan keamanan pada lingkungannya, harus selalu diperhatikan.

25. Istirahatlah yang cukup. Pada saat beristirahat sebaiknya berbaring ke samping, terutama ke sisi kiri bila sesuai saran dokter. Posisi ini akan memberikan sirkulasi darah terbaik untuk sang janin dan dapat mengurangi pembengkakan pada tungkai kaki.

Sumber : milis

Baca Selengkapnya......

Jumat, 28 Agustus 2009

Sudahkan Kita Menjadi Orang Tua yang Baik?

SIAPKAH kita membagi waktu dengan anak sementara pekerjaan rumah tangga masih menumpuk? Maukah kita meluangkan waktu memeluk, membelai dan bermain dengan si kecil sementara pekerjaan kantor menunggu untuk diselesaikan? Relakah kita merawat anak sakit di rumah sementara bos di kantor menanti kehadiran kita? Mampukah kita mematikan TV yang memutar sinetron kesayangan untuk meninabobokan buah hati? Inginkah kita segera sampai di rumah dari tempat kerja dan bercengkerama dengan anak sesampainya di rumah? Sanggupkah kita menampilkan airmuka ceria sementara kekesalan melanda hati ketika anak meminta perhatian kita?

Menjadi orangtua memang bukan tugas yang mudah. Diperlukan kesabaran, ketelatenan, kepekaan dan kecerdikan, selain tentu saja kesiapan untuk melakukannya. Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua yang baik. Tiada pula rumusan yang berlaku umum dan baku, seperti layaknya hukum gravitasi. Setiap anak, orangtua dan situasi yang meliputi berbeda-beda. Sehingga orangtua perlu mencari ramuan yang paling tepat untuk keluarganya sesuai perkembangan anak dan kondisi keluarga.

Perasaan lelah, bingung, kesal dan marah kadang juga putus asa dan frustrasi meliputi hati orangtua tatkala buah hatinya rewel, sakit, meminta sesuatu yang tak mungkin dipenuhi, atau melakukan kesalahan. Namun tidak selamanya menjadi orangtua itu penuh dengan lara. Justru sebenarnya sebagian besarnya menimbulkan rasa bahagia tiada tara yang muncul dari keterlibatan orangtua dengan anak-anaknya. Dengan kehadiran anak di tengah keluarga memberikan dampak positif bagi perkembangan psikologis ibu dan ayah, karena menambah rasa percaya diri, mempertebal rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menumbuhkan harga diri dan kesempatan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup yang baru.

Peran sebagai orangtua dimulai ketika anak hadir di tengah kehidupan pasangan suami istri. Orangtua adalah orang pertama dalam kehidupan bayi yang mengajarkannya tentang benda-benda di sekelilingnya, arti dari dunia di sekitarnya, bagaimana menciptakan kontak sosial dengan orang lain dan bagaimana mengekspresikan dan mengenal ekspresi emosi. Melalui bermain dan komunikasi orangtua membentuk pengalaman hidup anak dan sebaliknya juga anak mempengaruhi perilaku orangtua ketika berinteraksi dengan anak. Bagaimana orangtua mempersepsikan temperamen, inteligensi dan afeksi anak mempengaruhi relasi orangtua dengan anak. Maka tak heran bila orangtua berlaku berbeda terhadap anak yang satu dengan yang lainnya. Mungkin saja orangtua bersikap lebih lembut ketika berhadapan dengan si sulung dan lebih keras kala bicara dengan si bungsu, atau sebaliknya. Bagaimanapun bentuk interaksi orangtua dengan anak, yang perlu kita ingat adalah relasi kita dengan anak sangat berperan dalam membentuk pengalaman hidup anak.

Seorang pakar parenting Marc H. Bornstein (1998) menyebutkan adanya beberapa inti dari peran orangtua yang diidentifikasikan secara langsung mempengaruhi kehidupan anak:

* Nurturant caregiving: orangtua memenuhi kebutuhan biologis, fisik dan kesehatan anak.

* Material caregiving: orangtua mengatur dan memenuhi kebutuhan duniawi anak, seperti rumah dan lingkungan sekitarnya termasuk alat permainan, buku-buku, keselamatan dan kebebasan fisik.

* Social caregiving: meliputi beragam perilaku fisik, verbal, visual dan afeksi yang orangtua lakukan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan interpersonal anak, seperti diantaranya mencium, membelai, berbicara, bermain, mendengarkan anak, menyampaikan pujian dan memberikan kedekatan emosional pada anak. Anak juga dibantu untuk belajar mengontrol afeksi dan emosinya. Di dalam social caregiving ada yang yang disebut sebagai social parenting styles, yaitu bagaimana tipe peran orangtua yang dibagi menjadi dua bentuk yakni authoritative dan authoritarian. Orangtua dengan tipe peran authoritative cenderung hangat dalam interaksinya dengan anak dengan memberikan disiplin dan kontrol yang relatif sedang dalam perannya sebagai orangtua. Sedangkan yang authoritarian cenderung banyak kontrol, kurang hangat dan kurang merespon kebutuhan-kebutuhan anak.

* Didactic caregiving: mencakup berbagai strategi yang dipakai orangtua untuk menstimulasi anak agar ia mengerti dan terlibat dengan lingkungannya dan siap untuk masuk ke dalam dunia belajar.

Sejak bayi orangtua perlu menyediakan ke empat hal di atas secara memadai. Tak jarang orangtua menyangka dengan dipenuhinya kebutuhan biologis, fisik, kesehatan dan materi saja sudah cukup bagi anak. Sehingga orangtua mengikhtiarkan segala daya upaya dengan bekerja keras untuk memberikan rumah tinggal yang nyaman, mainan yang mahal, baju yang bagus untuk anak, kendaraan untuk mengantar jemput dari sekolah dan menyekolahkan anak di sekolah yang mempunyai 'nama' (dan tentu saja mahal). Padahal dengan waktu yang banyak tersita untuk bekerja, apalagi dengan semakin banyaknya ibu yang bekerja juga, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan sosial dan pengajaran (social dan didactic caregiving) bagi anak. Memang di tengah kesibukan yang menyita waktu, masih ada orangtua yang bisa dengan ceria menyapa anak ketika pulang dari kantor, mendengar anak bercerita tentang teman-teman dan perasaannya, memeluk dan membelai anak ketika mereka sedang gundah atau membimbing anak dengan sabar untuk mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang ada di kepala anak. Tapi berapa persenkah dari kita yang masih mempunyai tenaga dan perhatian penuh dan tidak terpecah setelah disibukkan dengan berbagai kegiatan di luar rumah seharian penuh? Bersyukurlah kalau kita termasuk orang yang mampu bertahan dan memberikan sepenuhnya hati kita di rumah seperti kala kita bekerja, karena diperlukan stamina yang luar biasa untuk bisa membagi perhatian sama baiknya antara anak dan pekerjaan. Sungguh tidak adil bagi anak kalau kita 'mencintai' pekerjaan kita lebih daripada anak yang kita kandung sembilan bulan lebih, kita harapkan kehadirannya dan kesejahteraannya sepenuhnya tergantung dari orangtua yang mengasuhnya.

Tak jarang situasi memaksa kedua orangtua untuk bekerja mencari nafkah agar bisa hidup 'layak'. Namun 'layak' itu relatif sifatnya dan sulit ukurannya. Sehingga akhirnya terpulang pada orangtua untuk menentukan prioritasnya, apakah anak yang menduduki tangga pertama atau pekerjaan dan karier yang lebih utama. Kalaupun bukan karier yang dikejar, tapi nafkah untuk hidup semata yang ingin dipenuhi, orangtua tetap harus menyisakan waktunya untuk berbicara dan berdiskusi dengan anak, bermain dan mendengarkan anak selain juga memenuhi kebutuhan emosi, sosial dan kognitif lainnya. Karena anak akan terus menanti perhatian orangtua berapa kalipun orangtua mengatakan "ibu (atau ayah) sedang sibuk, jangan ganggu dulu". Kalaupun ibu seharian berada di rumah, tidak menjamin perannya sebagai orangtua lebih baik daripada ibu yang bekerja, sebab yang dibutuhkan anak adalah perhatian yang berkualitas prima dari orangtua dan bukan sekedar kehadiran fisik semata.

Orangtua secara tidak langsung turut pula mempengaruhi anak melalui bentuk relasi suami istri yang mereka ciptakan di dalam keluarga. Orangtua yang memiliki dan mempunyai persepsi positif mengenai perkawinannya atau diri mereka sendiri akan berelasi dengan anaknya dalam cara yang positif pula. Mereka akan lebih memperhatikan anak dan lebih merespons kebutuhan-kebutuhan anak. Sebaliknya, orangtua yang mempunyai pandangan yang negatif tentang perkawinannya dan diri mereka akan berinteraksi secara negatif dengan anaknya, kurang memperhatikan anak dan kurang responsif.

Maka bila orangtua ingin anak bahagia, perlu juga ditengok kehidupan perkawinan orangtua. Apakah rumah tangga sering diwarnai dengan perang mulut atau justru diliputi kebisuan yang dingin? Apakah ayah dan ibu sering berbicara dari hati ke hati di kala mereka berdua? Apakah orangtua saling bertukar kata-kata sayang, tatapan mesra atau pelukan hangat di depan anak? Memang kehidupan rumah tangga tak seperti layaknya film romantika. Namun kehangatan perkawinan seyogyanya mewarnai kehidupan rumah tangga sehari-hari, karena memberikan dampak positif bagi persepsi diri orangtua, interaksi mereka dengan anak maupun persepsi anak tentang perkawinan dan kehidupan berkeluarga.

Setiap orangtua perlu memahami betapa pentingnya dan kuatnya pengaruh yang dapat mereka sampaikan pada anak melalui hal-hal yang kelihatannya sederhana, seperti perhatian yang mereka berikan, kebahagian yang mereka pancarkan kala bersama anak, dan juga melalui minat dan kemauan mereka mendengarkan anak. Kesadaran untuk berempati dengan anak, kemauan untuk memenuhi kebutuhan anak (termasuk kebutuhan emosional anak), stabilitas dan kematangan emosi orangtua merupakan ciri-ciri utama orangtua harapan anak.

Ketrampilan menjadi orangtua yang baik tidak begitu saja turun dari langit. Perlu latihan berulang-ulang dengan perjalanan waktu sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak dan keluarga. Dibutuhkan kelenturan dalam menerapkan disiplin yang disesuaikan dengan usia anak. Rencana-rencana dan tujuan yang akan dicapai sudah harus dibicarakan orangtua semenjak anak dalam kandungan. Bagaimana pola pengasuhan yang akan diterapkan perlu dicanangkan sejak awal dan dimodifikasi sesuai perkembangan anak, karena keluarga merupakan unit yang dinamis sifatnya. Orangtua perlu dengan cermat menyesuaikan banyak dan jenis stimulasi dan atensi yang mereka berikan pada anak dengan tingkat perkembangan anak, minat, temperamen dan suasana hati anak saat itu. Yang penting juga orangtua harus mempunyai kemampuan untuk bisa menikmati bahagianya memiliki anak. Ada saling ketergantungan yang merajut relasi antara anak dan orangtua sejak bayi hingga dewasa dan mandiri. Kebahagiaan yang dipancarkan orangtua akan menciptakan anak-anak yang bahagia dan ini merupakan berkah yang bisa dinikmati segera dan kala orangtua lanjut usia.

Hidup adalah rangkaian pilihan dan prioritas. Bila anak menjadi prioritas utama, maka segala pilihan keputusan dan tindakan ditujukan untuk anak semata, dan lainnya menjadi pilihan berikutnya. Semua keputusan dalam hidup seyogyanya selalu didasari oleh pertimbangan utama: bagaimana keputusan ini berdampak untuk kesejahteraan anak saat ini dan untuk masa mendatang. Seperti kata seorang yang bijak, "Tidak ada yang lebih berharga selain waktu dan perhatian yang diberikan untuk anak".

Sumber : buatkeluarga.blogspot.com

Baca Selengkapnya......

Kamis, 27 Agustus 2009

Makan Bersama Mempererat Keharmonisan Keluarga

DALAM keluarga, makan bersama merupakan media untuk memberikan nilai, norma serta sistem. Bagaimana menyampaikan kasih sayang lewat makanan. Namun, bisa dilihat di Indonesia, ajang makan bersama keluarga makin terlihat jarang. Padahal, makan bersama sangat penting dalam memperkuat ketahanan keluarga.

Makan bersama bisa menjadi media utama afeksi melalui tatapan, serta sentuhan. Selain itu dapat memperkuat harmonisasi keluarga (suami-istri, orangtua, dan anak). Makan bersama merupakan media untuk jatuh cinta pada anggota keluarga. Bisa menjadi tempat sharing, berbagi informasi, serta kasih sayang.

Untuk Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai manfaat dari makan bersama, Dr Erna Karim, sosiolog keluarga dari FISIP Universitas Indonesia memberikan pemaparannya.

"Sebagai anak, ajang makan malam bersama bisa dilanjutkan dengan obrolan-obrolan santai. Bisa di meja makan, ataupun berpindah tempat di halaman depan rumah. Sebagai sosok istri, duduk sambil sesekali menyentuh dan mengusap kepala, telinga, punggung, serta lengan suami bisa sebagai tanda begitu meluapnya rasa cinta dan kasih untuk pasangannya. Sebagai seorang ibu, duduk di hadapan anak menguatkan pesan, nilai, norma serta kasih sayang lewat makanan," ujar Dr Erna saat peluncuran gerakan "Ayo Makan Bersama!" Royco di Restoran Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Ditambahkan wanita berkerudung ini, kebiasaan makan bersama merupakan resosialisasi yang bisa membawa nilai dan norma di tengah-tengah keluarga.

"Resosialisasi ialah mengenalkan kembali. Makan bersama sangat penting, karena orangtua sebagai agen utama, yaitu agen perubahan. Kalau tidak ada makan bersama, bagaimana orangtua bisa memberikan nilai dan norma di dalam keluarga," imbuhnya.

Senada dengan Dr Erna, psikolog keluarga dari Fakultas Psikologi UI Dr Rose Mini MSi yang turut hadir pada kesempatan tersebut juga memaparkan manfaat makan bersama.

"Kebiasaan makan serta postur tubuh dapat dibangun melalui makan bersama. Pola duduk, cara makan dapat terlihat ketika ajang makan bersama. Disiplin dimulai dari makan bersama. Sehingga makan jadi lebih teratur dan dapat terhindar dari maag," jelas wanita berkacamata itu.
Lebih lanjut, psikolog keluarga dari Fakultas Psikologi UI ini menjelaskan bahwa kebiasaan makan bersama menjadi ajang ibu mentransfer norma kepada buah hatinya.

"Dengan makan bersama, itu merupakan media ibu mentransferkan norma ke anak. Ada kegiatan di mana kita bisa saling berempati, dan makan bersama bisa menjadi media tersebut. Selain itu, makan bersama dapat membangun keharmonisan keluarga, dan melatih individu dalam memecahkan masalah," imbuhnya.

Nah, jadikan makan bersama sebagai rutinitas keluarga Anda!

Sumber : lifestyle.okezone.com

Baca Selengkapnya......

Rabu, 26 Agustus 2009

Kiat Merespon Keingintahuan Anak

SEBAGIAN anak ada yang memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi terhadap sesuatu yang ada disekelilingnya. Anak banyak bertanya tentang ini dan itu. Bahkan terkadang anak bertanya tentang sesuatu yang sulit orangtua untuk menjawabnya. Misalnya, ‘Bu, kok bisa ada ade bayi di dalam perut ibu, dari mana asalnya adek bayi itu, Bu?’.

Dari rasa ingin tahu anak tersebut maka tak salah bila ia banyak bertanya. Sebagian ada orangtua yang tidak senang dengan sikap anak yang banyak bertanya. Orangtua seperti itu biasanya menghindar atau bahkan melarang anak banyak bertanya. Orangtua tersebut menganggap bahwa pertanyaannya tidak penting untuk dijawab.

Sikap orangtua di atas tentu akan membuat anak merasa bertambah bingung. Mungkin saja anak tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi dari orangtuanya. Tetapi, rasa ingin tahu yang membuatnya bingung bisa saja mendorong anak bertanya kepada orang lain selain orangtuanya. Keadaan ini akan membahayakan anak jika ia ternyata bertanya kepada orang yang tidak tepat. Boleh jadi jawaban yang ia terima adalah jawaban yang dapat merusak fikirannya.

Oleh karena itu, adalah orangtua bijak apabila dapat meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak. Ada beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan ketika menanggapi pertanyaan anak :

Berusahalah untuk tidak mengelak pada pertanyaan anak dengan cara apa pun karena hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya justru menambah rumit. Anak akan terus berusaha menanyakan masalah yang membingungkannya tersebut jika ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan yang sesuai dengan tingkat berfikirnya.

Hindarkan berkata kepada anak, Kamu masih kecil, kalau sudah besar nanti kamu akan tahu jawaban pertanyaanmu itu’. Pertanyaan seperti ini tidak menenangkan anak, namun justru membuat ia semakin bingung. Hal yang difahami dari ucapan itu adalah bahwa orangtuanya tidak mau menjawab pertanyaannya karena suatu hal. Tindakan seperti itu akan menambah kebingungan dalam benak sang anak.

Ketika menjawab pertanyaan anak, jawablah dengan terang dan jelas sesuai dengan taraf berfikirnya, tidak menjawab suatu pertanyaan anak dengan jawaban yang terlalu luas sehingga anak tidak faham. Hindarkan memberi jawaban yang jauh dari kenyataan agar ia tidak merekam pemahaman yang salah.

Sumber : perempuan.com

Baca Selengkapnya......

Selasa, 25 Agustus 2009

Ajari Anak Etika Menonton TV

TELEVISI kini seperti sudah menjadi anggota baru dalam keluarga. Kita sarapan, belajar, dan menghabiskan banyak waktu bersamanya dibanding dengan anggota keluarga lain.

Televisi diposisikan sebagai sumber penting bagi kehidupan anak kita; pengajar, babysitter, penghibur, penjual, dan sebagainya. Semua terangkum jadi satu. Apakah ini berarti kekuatan TV dalam kehidupan anak-anak kita semakin tak terkendali? Jawabannya ada pada kita, para orangtua.

TV ibarat obat, bisa menyembuhkan atau justru menjadi racun. Bertindaklah cepat dan cermat agar pengaruh TV tidak mengalahkan kekuatan kita sebagai orangtua.

Ubah kebiasaan
Banyak anak telah menjadi pecandu TV sejak berusia 2 tahun. Kebiasaan berbahaya ini hanya bisa diubah dengan cara menggantinya dengan kebiasaan baru yang tentu lebih positif. Lakukanlah perubahan itu setiap hari, meski hanya hal kecil, misalnya membaca. Bimbinglah anak untuk menemukan keajaiban dari membaca, terutama sejak mereka berusia dini.

Tempatkan TV di ruangan yang jarang digunakan
Jauhkan TV dari ruangan yang sering digunakan untuk aktivitas keluarga. Hal ini membuat anak akan jarang menonton TV.

Rencanakan satu malam dalam sepekan tanpa TV
Konsekuensinya, Anda harus punya alternatif kegiatan, bisa bersama keluarga atau memilih waktu untuk sendiri. Bersama anak-anak, Anda bisa bermain puzzle, scrabble, ataupun monopoli. Anak akan terhindar dari kecanduan TV jika Anda punya sesuatu yang menyenangkan ketimbang menonton TV.

Hindari memanfaatkan TV seperti babysitter
Anda tentu tidak akan membiarkan anak Anda dijaga atau diasuh oleh orang asing. TV hanyalah benda mati. Ia tidak akan bisa bereaksi saat anak menangis butuh bantuan, juga tidak bisa berkata-kata saat anak ketakutan.

Rencanakan lebih dulu apa yang ingin ditonton
Dengan panduan ber-televisi, tentukan apa yang Anda dan anak-anak akan tonton setiap malam. Jangan menyalakan TV hanya untuk melihat program apa yang sedang tayang. Bantulah anak untuk merencanakan tayangan TV apa yang dirancang khusus sesuai usia, ketertarikan, dan tingkat kedewasaan mereka.

Menonton tanpa anak-anak
Menonton TV tanpa anak menjadi kesempatan Anda untuk melihat perkembangan tayangan TV yang ada. Nilailah mana yang baik menurut nilai dan tradisi keluarga Anda.

Bantu anak membedakan kenyataan dan keyakinan
Jelaskan ke mereka bahwa teror dan kejahatan dalam tayangan TV hanyalah akting belaka dan bukan kekerasan dalam kehidupan nyata.

Diskusi iklan junk food
Bantu anak untuk melihat kenyataan bahwa sebenarnya iklan coba merayu mereka untuk menghabiskan uang dengan cara membeli sesuatu yang tidak sehat, seperti junk food. Beri kesempatan kepada anak untuk ikut memilih makanan yang bergizi untuk keluarga.

Panduan tersebut mungkin terasa berat di awal untuk memulai suatu perubahan. Pilihlah satu atau dua poin yang menurut Anda pas diterapkan dalam keluarga. Jika perlu, catat daftar panduan tersebut dan letakkan di pintu lemari es untuk dipraktikkan tiap pekannya.

Sumber : okezone.com

Baca Selengkapnya......

Senin, 24 Agustus 2009

Perlukah Memiliki Kartu Kredit?

SAAT ini kartu kredit begitu mudah didapatkan. Hal ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun yang lalu di mana ada proses verifikasi yang cukup ketat sebelum bank mau memberikan kartu kredit untuk nasabah baru.

Jika Anda berjalan-jalan ke mall, coba perhatikan tawaran yang begitu menggiurkan:

“Silakan Pak, cukup fotokopi KTP dalam 1 jam kartu sudah jadi”

“Kartu ini tanpa iuran tahunan, jadi Bapak tidak perlu keluar biaya.”

“Apakah sudah punya kartu kredit sebelumnya? Jika ya kami dapat membuatkan kartu tambahan yang baru, kelebihannya banyak lho..”

Saya bukan orang yang anti kartu kredit, tapi saya menyayangkan banyak orang yang sebenarnya tidak membutuhkan kartu kredit tergiur oleh tawaran tadi dan akhirnya terbelit hutang yang tak kunjung selesai. Beberapa kali saya menangani kasus karyawan yang terlilit hutang kartu kredit dan kondisinya memprihatinkan.

Banyak orang memiliki 4, 5, 6 kartu kredit atau bahkan lebih banyak lagi. Saya tidak tahu kartu tersebut digunakan untuk apa saja dan apakah memang diperlukan. Tulisan menarik lainnya tentang hutang kartu kredit ditulis oleh Ligwina Hananto, CEO Quantum Magna Financial dapat Anda baca di sini.

Berikut adalah beberapa fakta yang perlu Anda ketahui tentang kartu kredit:

Kartu Kredit = Kartu Hutang
Jika Anda punya banyak kartu kredit, jangan bangga dulu sebab semakin banyak kartu biasanya semakin banyak pula hutang yang tertunggak. Malu dong..

Kartu Kredit Bukan Uang Tambahan
Banyak orang mengira dengan adanya kartu kredit mereka memiliki tambahan dana yang bisa dimanfaatkan sesukanya. Salah besar. Uang yang Anda pakai tersebut adalah hutang dengan bunga yang cukup tinggi dan harus segera dilunasi sebelum temponya jika tidak ingin sengsara di kemudian hari.

Kartu Kredit Bukan Untuk Jaga-Jaga
Ada juga yang memiliki kartu kredit untuk motif berjaga-jaga. Ini juga tidak tepat. Jika ingin berjaga-jaga untuk keperluan darurat, tabunglah sejumlah dana dan ketika Anda membutuhkannya segera, dana tersebut bisa ditarik. Menggunakan kartu kredit sebagai dana darurat seringkali menyebabkan orang terjebak hutang yang tak pernah lunas.

Kartu Kredit Pengganti Uang Tunai
Pada dasarnya fungsi kartu kredit adalah sebagai pengganti uang tunai sehingga tidak perlu repot-repot dalam bertransaksi. Dengan demikian, fungsinya sebagai alternatif dalam melakukan transaksi dan seharusnya orang yang menggunakannya memang telah memiliki dana yang cukup dan bertanggung jawab atas seluruh transaksi yang dilakukan.

Kartu Kredit = Pinjaman Berbunga Tinggi
Jika Anda pernah terlambat membayar tagihan kartu kredit atau memang terpaksa menunda pembayaran, saya yakin Anda merasakan berapa besar bunga yang harus dibayar. Rata-rata penerbit kartu menetapkan bunga 3% per bulan. Ini sama dengan 36% per tahun. Beberapa penerbit lainnya bahkan menetapkan bunga yang lebih besar lagi.

Lantas apakah perlu memiliki kartu kredit? Silakan jawab beberapa pertanyaan berikut dan Anda dapat memutuskan apakah perlu memilikinya atau tidak:

Apakah Anda sering bepergian ke luar negeri?
Jika Anda sering bepergian ke luar negeri, kartu kredit akan banyak membantu untuk melakukan berbagai pembayaran tanpa harus membawa uang tunai yang banyak atau menukar dengan mata uang yang berbeda-beda.

Apakah Anda sering bertransaksi lewat internet?
Kartu kredit adalah salah satu cara bayar yang lazim di internet meskipun keamanannya perlu dipertimbangkan. Selain itu masih ada alat bayar lain yang sekarang populer dan relatif lebih aman seperti Paypal atau Google CheckOut.

Apakah Anda punya selera belanja yang besar?
Kartu kredit akan dapat membuat hasrat belanja Anda tersalurkan dengan berlebihan. Jika Anda senang belanja, berhati-hatilah memiliki kartu kredit. Jangan gesek sembarangan atau Anda harus bersiap-siap pusing pada bulan-bulan berikutnya.

Apakah Anda membutuhkan alat pembayaran universal untuk berbagai tagihan?
Beberapa kartu kredit bisa mengumpulkan seluruh tagihan Anda dalam satu tempat sehingga tidak perlu repot-repot lagi membayar berbagai jenis tagihan secara terpisah seperti telepon, handphone, internet, listrik dan beberapa tagihan lainnya. Jika memang Anda orang yang cukup sibuk dan proses tersebut membantu, maka Anda dapat memilikinya.

Apakah Anda memiliki penghasilan yang cukup?
Jika penghasilan Anda mencukupi untuk kebutuhan reguler, Anda dapat mempertimbangkan kartu kredit sebagai alat bantu pembayaran. Ingat, hanya sebagai alat bantu pembayaran, bukan sebagai tambahan penghasilan semu. Untuk orang yang bisa membayar tagihan kartu kredit tepat waktu dan lunas dapat mengambil manfaat dari kartu plastik ini.Jika penghasilan Anda belum memadai, jangan memaksakan memiliki kartu kredit. Salah-salah Anda akan menderita karena salah pemakaian dan tergoda memanfaatkannya sebagai sumber dana tambahan yang sebenarnya adalah hutang.

Apakah Anda tertib dalam mengelola keuangan?
Jika Anda cukup mampu mengendalikan diri dan mengelola keuangan, silakan memiliki kartu kredit. Tapi jika Anda gampang tergoda dengan kartu plastik tersebut, berhati-hatilah, lebih baik mengandalkan penghasilan yang memang Anda miliki.

Silakan pelajari jawaban Anda dan putuskan apakah perlu memiliki kartu kredit atau tidak. Selamat memutuskan.

Sumber : muhammadnoer.com

Baca Selengkapnya......

Kamis, 20 Agustus 2009

Tanamkan Minat Baca pada Anak

BAHKAN, kegiatan ini merupakan hal terbaik yang dapat diberikan orangtua kepada anak. Ungkapan ini tidak berlebihan, karena 90 persen kualitas otak anak dipengaruhi saat anak berusia nol sampai 3 tahun, sehingga periode ini disebut dengan periode emas. Maka, orangtua hendaknya membantu anak semaksimal mungkin pada periode ini agar perkembangan intelektual dan emosional maksimal. Salah satu hal yang dapat dilakukan orangtua adalah dengan membacakan cerita sejak dini untuk anak, bahkan sejak dalam kandungan karena ada banyak manfaat yanng bisa diperoleh dengan melakukannya.

Membaca adalah kemampuan yang terpenting bagi seseorang, karena dapat membuka wawasan terhadap banyak pengetahuan. Jutaan anak yang menghabiskan waktu di depan televisi ataupun video game sering gagal untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. Sehingga mereka gagal mempelajari banyak hal yang berharga. Hasil penelitian menunjukkan banyak pelajar SMA bahkan perguruan tinggi yang tidak sanggup membaca pada tingkat paling dasar agar sukses dalam mengerjakan tugas-tugas mereka. Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan membaca harus mulai dikuasai seorang anak sejak dini. Mengajar anak untuk membaca adalah tugas utama yang penting.

Banyak orang tua berpikir bahwa pendidikan anak dimulai ketika anak mereka masuk sekolah setidaknya pada saat anak mereka masuk play group dan taman kanak-kanak. Namun fakta menunjutkkan bahwa sesaat setelah bayi lahir, otak bayi mulai berfungsi penuh dan siap menyerap semua informasi untuk digunakan kemudian oleh bayi tersebut. Karena itu, mulailah proses pengajaran sejak kelahiran. Buanglah pemikiran bahwa pengajaran dan pendidikan hanya bisa dilakukan oleh guru di sekolah atau mereka yang ahli dalam bidang pendidikan formal. Penelitian yang mendalam tentang hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan dan keahlian seorang anak dalam menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan, seperti belajar berbicara dan belajar membaca, bergantung pada banyaknya interaksi mula-mula secara alamiah antara bayi dan orang tuanya, serta kemampuan orang tua untuk membantunya mulai belajar secara mandiri.

Orang tua berperan aktif untuk membantu anak mereka yang masih kecil untuk menguasai kemampuan membaca agar terhindar dari masalah di kemudian hari dalam pendidikan di sekolah. Hal ini bisa dimulai dengan cara sederhana dan membuatnya sebagai bagian dari rutinitas dalam kehidupan seorang anak. Dengan demikian dia dapat menguasai kemampuan membaca bahkan sebelum memasuki sekolah.

Kapan Mulai Mengajar Membaca?
Saat yang paling tepat untuk memulai adalah sedini mungkin. Saat bayi lahir, cobalah mulai berbicara kepada bayi Anda. Ingatlah bahwa ia sedang belajar suatu "bahasa asing" sehingga membutuhkan semua bantuan yang dapat Anda berikan. Kata-kata penuh kasih sayang serta semua komunikasi lisan tidak hanya meyakinkan rasa sayang Anda kepada sang bayi, namun juga secara tetap tentu memperkenalkan kepadanya bahasa asing yang sedang ia pelajari.
Pada proses pertama, sang bayi hanya akan mempelajari dari suara saja dan ini bisa berlangsung sejak kandungan. Kemudian ketika ia mulai bisa melihat lingkungan sekelilingnya, Anda dapat menggunakan alat bantu visual misalnya mainan yang dapat membuatnya belajar sekaligus bisa bermain. Namun yang terbaik, Anda dapat menggunakan alat bantu yang membantunya belajar membaca sekaligus membuatnya terhibur.

Cara Mengajar Membaca untuk Anak sejak Dini
Mulailah dengan menunjukkan satu atau dua huruf yang berwarna cerah. Perangkat seperti ini banyak tersedia di toko mainan anak. Gunakan huruf-huruf ini sebagai mainan bagi sang bayi, namun Anda dapat sedikit menekankan kepada sang bayi dengan menyebutkan nama huruf tersebut kepadanya setiap kali ia mengamati huruf tersebut. Tambahlah satu huruf secara per lahan seraya ia semakin bertumbuh. Seraya waktu berjalan, ia akan mulai dapat mengidentifikasi banyak huruf meski belum mampu mengucapkannya.

Langkah Pertama Membaca
Perkenalkan dan sebutkan setiap huruf pada bayi Anda
Sebutkan nama huruf-huruf dengan urutan kiri ke kanan
Bantulah ia mengerti bahwa huruf tercetak menggambarkan suara yang diucapkan

Setelah sang anak mengetahui semua huruf, maka tahap selanjutnya adalah memperkenalkan huruf-huruf tersebut pada urutan yang tepat. Di Indonesia kebiasaan membaca adalah dari kiri ke kanan. Maka susunlah huruf-huruf tersebut dari kiri ke kanan. Ketika ia sudah mulai berbicara, mintalah ia menyebutkan huruf-huruf tersebut dengan urutan dari kiri ke kanan.
Setelah seorang anak mengenali semua huruf, mulailah dengan mulai mengajarkan mengenal kata. Salah satu cara terbaik adalah dengan memperkenalkan namanya. Misalnya dengan menyusun huruf-huruf yang membentuk namanya. Lalu orang tua mengucapkan susunan huruf-huruf tersebut serta namanya. Ketika ia mulai lancar mengucapkan namanya, tambahkan kata lain yang mudah dimengerti seperti papa, mama, atau kata lainnya. Lakukan semua hal tersebut dalam kondisi santai dan juga dalam suasana bermain.

Selain itu, Anda juga dapat membacakan sebuah cerita dalam buku yang memiliki gambar dengan warna yang cerah. Sang anak akan lebih terbiasa membaca jika Anda sering membacakan buku yang menarik kepada anak Anda yang masih kecil. Dengan demikian ia akan semakin mengerti bahwa huruf-huruf tersusun menjadi kata yang memiliki ucapan dan arti tersendiri.

Agar kegiatan ini tidak membosankan, hendaknya saat membacakan cerita dilakukan dengan seekspresif mungkin. Gunakan intonasi suara sesuai karakter tokoh yang ada. Anda juga dapat menggunakan bahasa tubuh yang sesuai aatau melakukan efek drama seperti tertawa, berbisik, menjerit atau merengek untuk membuat anak berimajinasi.

Karena selera anak bisa berbeda, maka bila Anda hendak membeli sebuah buku, libatkan anak untuk memilih buku yang disukainya. Ini tentu dapat dilakukan ketika anak Anda sudah mengerti dan cukup umur untuk menentukan pilihannya. Selanjutnya, tugas Anda sebagai orangtua adalah menyeleksi buku yang dipilih anak apakah sesuai dengan usianya.
Waktu yang paling baik untuk membacakan buku adalah saat anak menjelang tidur. Sisihkan 15 menit sampai 20 menit untuk mebacakannya karena pada saat inilah daya ingat anak semakin kuat.

Manfaat Membacakan Cerita untuk Anak
Karena itu, bagaimana cara mengajarkan anak agar berminat untuk membaca? Caranya adalah dengan membacakan cerita sejak mereka lahir bahkan semenjak di kandungan. Beberapa manfaat membacakan cerita untuk anak antara lain:

1. Menanamkan kecintaan anak untuk membaca buku.
Dengan gemar membaca buku tentu akan menambah pengetahuan anak dan dapat menjadikannya manusia yang berkualitas di masa depan.

2. Membuat anak menjadi lebih tenang dan nyaman.
Karena suara orangtua sudah biasa didengar sejak dalam kandungan, maka ketika mendengar suara Anda setelah anak lahir membuatnya merasa tidak sendirian, sehingga anak merasa lebih nyaman.

3. Membantu anak mengenal kata dan kalimat.
Ketika orangtua membacakan cerita, anak akan mendengar kata yang Anda ucapkan. Hal ini akan menambah perbendaharaan kata yang dimilikinya, membantunya mengenal arti kata dan kalimat. Anda juga dapat menerangkan arti suatu kata yang kelihatannya asing atau belum diketahui artinya.

4. Menyampaikan pesan moral untuk anak.
Buku-buku yang dikhususkan untuk anak, biasanya berisi pesan moral yang hendak disampaikan sehingga dapat menjadi media untuk memberitahu anak apa hal baik dan buruk yang boleh atau tidak boleh dilakukan.

5. Meningkatkan hubungan emosional orangtua dan anak.
Membacakan cerita dapat membuat anak merasa diperhatikan. Anda juga dapat membacakan cerita dengan memeluk atau bersentuhan secara fisik sehingga anak merasa disayangi.

Jadi, jangan lupa bacakan cerita untuk anak Anda malam ini.

Sumber : kumpulan.info.com

Baca Selengkapnya......

Daftar Arsip Pelangi